Minggu, 24 Desember 2017

Pemilik Cinta yang Tulus, IBU



Foto : Dari Google


Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita Orang
Tentang riwayatku

Reff :
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Back to reff
Oh Bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku
             
Lirik Lagu Bunda oleh Melly Goeslaw


Lagu Bunda yang diciptakan dan dibawakan oleh Melly Goeslaw, menceritakan sebuah kenangan seorang anak yang sedang membuka album usangnya. Sang anak teringat akan kasih sayang sang Bunda, sejak saat sang Anak masih ditimang hingga sang Bunda tiada. Kasih sayang seorang Bunda yang digambarkan dalam lirik lagu tersebut, penuh kerelaan dan ketulusan merawat sang Anak dengan tangannya yang halus dan suci yang tiada tara.
Tepat tanggal 22 Desember, di Indonesia merayakan hari yang spesial untuk para Ibunda di tanah air, yaitu Hari Ibu. Sedangkan di beberapa negara lain, hari ibu dirayakan di tanggal yang berbeda dengan di Indonesia. Amerika, Australia, Kanada, Jerma, Italia, Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong merayakan Hari Ibu atau Mother’s Day pada hari minggu, pekan kedua di bulan Mei. Di Indonesia, pelaksanaa hari Ibu sudah dilaksanakan sejak Kongres Perempuan Indonesia ke-25, 22 Desember 1928. Terbentuknya Kongres perempuan Indonesia tersebut, terinspirasi dari toko pahlawan nasional di Indonesia, seperti Cut Nyak Meutia, Rasuna Sahid, Dewi Sartika, dan sebagainya.
Latar belakang kongres tersebut menjadi awal peringatan hari Ibu di Indonesia. Kongres tersebut dilatarbelakangi untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, serta untuk menigkatkan hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.  
Seiring waktu, Hari Ibu kini mempunya makna yang berbeda dibandingkan dengan sekarang. Kini Hari Ibu bermakna penghargaan atas perjuangan wanita yang telah melahirkan, merawat, dan mendidik anak-anak tanpa mengharapkan balasan jasa. Semua anak sangat antusias menyambut hari spesial ini, mereka menyiapkan berbagai kejutan yang berkesan untuk Ibu mereka masing-masing, seperti membantu pekerjaan rumah, memberi kado dan kue tart, serta memberi bunga untuk sang Ibu tercinta.
 
Foto : Dari Google
 Dalam Islam, seorang Ibu mempunyai kedudukan yang paling utama setelah Allah SWT. Seorang Ibu berjuang mengandung, melahirkan, dan menyusui anak bahkan nyawa menjadi taruhannya. Rasa kasih sayang yang tulus atas kehadiran buah hati yang tumbuh didalam rahimnya rasa sakit yang dirasakan sirna bergitu saja. Karena kedudukan yang mulia ini, Rasulullah bersabda dalam hadist berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ
صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Seorang Ibu senantiasa merawat dan mendidik anaknya dari dalam rahim hingga dewasa agar kelak anaknya dapat menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Tekadang, seorang Ibu juga mencari sesuap nasi untuk mengisi perut buah hatinya walaupun sang Ibu menahan rasa laparnya. Kebahagiaan anak adalah tujuan terpenting dalam hidup seorang Ibu. Dengan demikian sudah selayaknya, seorang anak membalas budi atas jasa kepada Ibu dan ingat surga itu ditelapak kaki Ibu, sudah sepantasnya seorang Ibu harus kita rawat hingga Beliau tua dan renta, seperti Beliau merawat kita disaat kita mengenal dunia ini.
Bersyukurlah, karena Ibu kita masih menemani hingga detik ini sehingga kita masih dapat merasakan kasih sayangnya. Kadangkala Ibu menjadi obat penenang atas permasalahan yang kita hadapi. Bersyukurlah, karena Ibu kita masih diberikan kesehatan hingga detik ini sehingga kita masih dapat merasakan sentuhan kasih sayangnya. Bagaimana ketika Ibu tidak dapat menemani kita lagi karena Allah SWT sudah menjemputnya? Maka, cintanya akan menjadi kenangan yang tidak mungkin dapat terulang kembali. Renungkanlah apa yang belum kita perbuat untuk kebahagiaan Ibu. Renungkanlah apa pantas kita membiarkan Ibu meneteskan air mata karena ulah kita. Mulai saat ini, mari bertindak nyata untuk memuliakan pemilik cinta yang tulus, Ibu.


Referensi : 
https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Ibu 
https://muslimah.or.id/1861-ibumu-kemudian-ibumu-kemudian-ibumu.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Film : Freedom Writers

Film Freedom Writers diangkat daru kisah nyata dan dirilis pada tahun 2007. Film ini disutradarai oleh Richard Lagravene. Film ini j...